Chef Thierry Lerallu: Menginspirasi Lewat Pastry
13 Juli 2018
University of Hertfordshire: Mencetak Lulusan Siap Kerja
30 Juli 2018

Lebih Dekat dengan Diki Suryaatmadja, si Bocah Jenius!

Lebih Dekat dengan Diki Suryaatmadja, si Bocah Jenius!

Berbekal skor IQ 189, seabrek prestasi di olimpiade sains, serta pencapaian masuk universitas di usia 12 tahun; ia pantas disebut sebagai calon ilmuwan masa depan.

Bagi SUN Education, sosok Diki Suryaatmadja sudah seperti teman. Maklum, SUN Education turut membantu Diki mempersiapkan segala keperluan pendaftaran kuliah S1 ke jurusan Fisika, di University of Waterloo, Kanada. Persiapan Diki itu pernah pula diliput SUN Media di artikel dan video.

Nah, selagi Diki ‘pulang kampung’ ke Indonesia, SUN Media kembali berkesempatan berbincang hangat dengan remaja kelahiran Bogor, 1 Juli 2004, ini.

Diki Suryaatmadja. Foto: SUN

 

Passion untuk Fisika

“Saya terpesona melihat bagaimana alam semesta ini bekerja.” Begitu alasan Diki saat ditanya SUN Media mengapa menyukai Fisika. Cowok yang ramah ini kini sudah dua tahun mempelajari ilmu fisika di University of Waterloo, Kanada. Ia duduk di semester lima di usianya yang masih 14 tahun.

Fisika memang sudah menjadi passion Diki. Segala hal yang berhubungan dengan ilmu tersebut menyisakan tantangan tersendiri. Sekalipun untuk mata kuliah yang terbilang sulit, Diki pasti berupaya mengatasinya. Pada pelajaran Chemistry Laboratory, misalnya, Diki tertantang bisa mengelola data di lab agar tidak terjadi kesalahan. Meski menurutnya agak sulit, Diki tetap berusaha maksimal memberi hasil terbaik.

“Di lab kimia, kesalahan data tidak bisa dikontrol dan terjadi begitu saja. Tapi, saya mengatasinya dengan berusaha menulis report yang detail agar orang-orang bisa mengerti kesalahan yang terjadi,” jelas remaja yang juga pecinta satwa ini. Berbekal passion itulah, Diki mengaku tak gentar menghadapi berbagai tantangan kuliah.

Diki menuturkan, bidang eksakta telah mencuri perhatiannya sejak ia berusia 9 tahun. Ia saat itu menunjukkan betul minat besarnya di bidang studi Kimia, Matematika, dan Fisika. Dan, semasa duduk di bangku SMA Kesatuan Bogor, acap kali Diki menjuarai olimpiade Fisika, Matematika, dan Sains. Baik di tingkat nasional maupun internasional.

Diki pun kini merasa beruntung bisa menuntut ilmu di University of Waterloo. Menurutnya, kampus yang terkenal unggul di bidang fisika itu aktif memfasilitasi siswa spesial seperti dirinya, terutama ketika menghadapi kesulitan dalam perkuliahan.

“University of Waterloo adalah universitas yang hebat, karena mampu mengakomodasi murid-murid yang berbeda. Dosen-dosen dan para penasehat akademik juga selalu meluangkan waktu menangani mahasiswa yang kesulitan memahami pelajaran maupun tugas,” jelas penyuka buku Neil Gaiman ini.

Diki Suryaatmadja

Diki Suryaatmadja menyukai karya-karya Neil Gaiman, salah satunya yang berjudul “Norse Mythology”. Foto: SUN

Dukungan kampus memang berperan penting mengoptimalkan potensi mahasiswanya. Bersama University of Waterloo yang suportif, Diki terus melaju mengukir prestasi yang mengagumkan. Sebagai bukti di semester ini, Diki meraih nilai 9 untuk pelajaran Matematika.

Agaknya, menyesuaikan kemampuan akademis di level perguruan tinggi bukan hal sulit bagi Diki. Akan tetapi, bagaimana dalam hal pergaulan? Mampukah Diki yang masih berusia 14 tahun beradaptasi dengan teman kuliah yang mayoritas berusia 20 tahun?

“Tidak ada masalah dalam bergaul. Saya mencoba beradaptasi dengan cara ikut berbagai klub di kampus. Lewat cara itu, saya jadi bisa nyambung bergaul dengan mereka,” ujar Diki yang merupakan mahasiswa termuda di sepanjang sejarah University of Waterloo ini.

 

Sudah Jenius Sejak Kecil

Di balik pencapaian hebat seorang anak, tentu ada peran besar sang Ibu. Adalah Hanny, ibu dari Diki, yang punya andil penting dalam kesuksesan Diki. Diakui Bu Hanny, keistimewaan Diki sudah terlihat sejak bayi. “Suatu kali, saya membawa Diki yang masih bayi berjemur di depan rumah. Saya letakkan Diki dalam boks dan menungguinya sambil membaca koran. Satu jam berselang, saya dikejutkan oleh Diki yang bisa membalikkan badannya sendiri dari arah barat ke timur,” kenang Bu Hanny.

Keyakinan tentang keistimewaan anak bungsunya itu pun bertambah besar sewaktu Diki berusa 6 bulan. “Diki saat itu sudah bisa menggunakan logikanya untuk membuka gagang pintu dengan cara menumpuk bantal,” imbuh Bu Hanny.

Menginjak usia satu tahun, kecerdasan Diki mulai terlihat. Ia selalu tertarik dengan mainan yang mengandalkan logika seperti Lego. Hanny pun mengaku mulai kewalahan meladeni Diki yang kerap mengajukan pertanyaan kritis dan sulit. “Kalau sudah tidak bisa jawab, saya akan bawa Diki ke toko buku atau ke seseorang yang lebih ahli agar bisa memberi jawaban yang tepat untuk Diki,” jelas Bu Hanny.

Masuk SD, kejeniusan Diki makin tak terbendung. Ia melewati masa sekolah di SD Kesatuan Bangsa tak sampai tiga tahun. Ia bahkan langsung melompat ke tingkat SMA melalui jalur akselerasi. Di usia 10 tahun, Diki sudah mengikuti ujian nasional Paket B untuk masuk SMA. Lalu di usia 12 tahun, di saat anak seumurannya masih duduk di kelas 6 SD, Diki sudah menjadi mahasiswa!

Memiliki anak jenius, Bu Hanny tak mau jumawa. Baginya, yang terpenting bagi Diki menjadi anak baik yang kelak berguna bagi masyarakat. Untuk itulah Ibu Hanny selalu menekankan pentingnya nilai moral untuk semua anaknya. “Saya selalu menekankan kepada Diki pentingnnya bersikap rendah hati dan bijaksana. Sebab menurut saya, pintar itu tidak ada artinya tanpa sikap bijaksana. Orang bijaksana biasanya tak hanya pintar, tapi juga berguna bagi banyak orang,” tegas Bu Hanny.

Kerendahan hati yang ditanamkan Bu Hanny tampaknya mulai tercermin dalam diri Diki. Meski telah mengukir banyak prestasi di luar negeri, Diki mengaku tetap ingin kembali dan tinggal di Indonesia. “Cita-cita saya adalah berkontribusi untuk membangun Indonesia lebih hebat lagi, khususnya di bidang energi,” ujar Diki, penuh harap. Lebih lanjut, selepas lulus S1 nanti, Diki berencana meneruskan pendidikan Master di bidang fisika. “Sekalian sambil bekerja sebagai peneliti, supaya bisa bayar kuliah pakai uang sendiri,” pungkasnya, mantap.

 

*******

Fakta Unik tentang Diki Suryaatmadja:

Di balik kejeniusannya, Diki adalah sosok yang humoris dan bersahabat. Foto: SUN

  • Paling doyan mie instan rasa soto koya, dimakan dengan perasan jeruk nipis.
  • Fans berat grup music vintage: The Beatles dan Queen.
  • Tak pernah bosan menonton film komedi lawas ‘Warkop Dono-Kasino-Indro’.
  • Paling takut, tapi ketagihan menonton film horror jadul yang dibintangi Suzanna.
  • Menggemari cerita komik Superman dan serial kartun Spongebob Squarepants.
  • Sedang keranjingan belajar piano dan Bahasa Jerman lewat apps di ponsel.

 

Tim SUN Media bersama Ibu Hanny dan Diki. Dari kiri ke kanan : Syeba (Creative Writer), Chika (Chief Editor), Ibu Hanny, Diki Suryaatmadja, Kevin (CMO SUN Education), dan Maulana (Photo/Videographer). Foto: SUN

 

Teks oleh : Syeba Jubilee Victoria

Lokasi: Metropole Coffee

Tinggalkan Balasan

Install SUN Education App
sekarang!
Wajib dimiliki oleh siapapun yang berencana
kuliah keluar negeri!