Jurusan untuk yang Peduli Lingkungan dan Perairan
29 Maret 2018
Cendikiawan Suryaatmadja: Si Jenius Belia
2 April 2018

Dear Millennials, Ini Kunci Sukses Berkarir dan Menjadi Pemimpin

Maya Arviani explained the Millennial topics: Skills for the Next Generation of Leaders at the World Top 250 Prestigious Universities Education Expo. Photo: SUN

Generasi milenial kerap disebut sebagai “Me Me Me Generation” yang cenderung memiliki sifat egois dan sombong. Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi yang membuat segala sesuatu jadi praktis dan instan memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter generasi yang lahir tahun 1980-2000an tersebut.

Namun, generasi milenial juga memiliki kemampuan dan potensi besar menjadi pemimpin.  Maya Arviani, Associate Director and Head of Office Leasing of Gunung Sewu Group berbagi lebih lanjut tentang generasi milenial di seminar bertajuk “Millennials : Skills for the Next Generation of Leaders” di acara World Top 250 Prestigious Universities Education Expo pada hari Minggu, 25 Maret 2018. Wanita yang pernah bekerja di IBM dan Microsoft ini memaparkan kunci sukses berkarir dan menjadi pemimpin yang dirangkum dalam langkah berikut ini:

 

Maya Arviani dalam seminar Millennial: Skills for the Next Generation of Leaders” di acara World Top 250 Prestigious Universities Education Expo. Foto: SUN

 

Tanamkan Karakter: Kejujuran dan Bekerja Keras

“Untuk mencapai karir yang sukses, yang terpenting adalah karakter,” ungkap Maya.

Ia menjelaskan bahwa generasi milenial harus punya integritas. Formula sukses yang dianutnya adalah utamakan karakter kejujuran dan kerja keras saat bekerja agar kita dihargai dan dipercayai orang sekitar.

 

Asah Kemampuan “Leadership”

“The true test of leadership is when you are able to lead without power and authority. It is when you can influence people, make them believe, get commitment, follow your vision of a better tomorrow,” ucap Maya mengikuti kutipan bijak dari salah satu mentornya.

Penulis dari buku Career First itu mengatakan untuk bisa mengasah kemampuan leadership, tak harus menunggu jabatan tertinggi dulu untuk membuktikannya. Kita bahkan bisa melakukannya saat kita berada di level staff ataupun ketika berada di dunia organisasi. Caranya adalah mampu meyakinkan orang dan berkontribusi untuk membuat sesuatu yang lebih baik.

 

Miliki Gaya Kepemimpinan yang Memberdayakan

“Gaya kepemimpinan ideal menurut saya adalah empowerment (pemberdayaan). Pengertian empowerment ini artinya orang-orang harus bisa diberikan kesempatan untuk bisa menyampaikan aspirasi dan pendapat,” jelas Maya.

milenial

Memberdayakan artinya memberi kesempatan orang-orang untuk beraspirasi. Sumber: Shutterstock

Berkaca dari pengalamannya memimpin, Maya meyakini bahwa tim-nya bisa berprestasi ketika ia mampu memberikan tantangan untuk mereka. Ia juga melibatkan bawahan untuk mampu memecahkan solusi sendiri dan membantu mereka mengembangkan analisanya. Selain itu, demokrasi juga penting dalam membangun sebuah tim, seperti tidak mengacu pada senioritas namun tetap respek kepada orang yang lebih tua.

 

Miliki Mentor

Maya mendorong para generasi milenial agar dapat mencari orang yang sudah sukses dan menjadikan mereka panutan. Tak hanya belajar tentang apa yang membuat mereka sukses, tapi juga belajar dari kesalahan yang mereka buat sebelumnya.

“Waktu itu terbatas, kita gak bisa melakukannya sendirian. Belajar dari orang lain adalah salah satu cara untuk bisa jadi sukses.”

 

Asah “Hard Skill” dan “Soft Skill”

Tantangan yang dihadapi generasi milenial sekarang adalah teknologi semakin canggih, jadi banyak pekerjaan yang diganti dengan robot atau mesin. Persaingan pekerjaan juga semakin tinggi karena adanya internet yang memungkinkan semua orang bisa melamar secara online. Untuk itu, Maya menyarankan agar milenial bisa mengasah hard skill dan soft skill agar tahu apa keunikan mereka dan dapat membedakan kita dengan generasi milenial lain.

 

Buktikan Kedewasaan dan Mentalitas Anda dalam Bekerja

Bagi Maya, tingkat kedewasaan dan mentalitas seorang pekerja dapat dilihat dari berapa lama orang itu bekerja di suatu perusahaan.

“Idealnya tiga tahun. Tahun pertama, Anda belajar. Tahun kedua, Anda mulai berkontribusi dan berprestasi. Di tahun ketiga, Anda mempertahankan performance Anda.”

 

Bangun Persona dan Warisan Anda

Maya menjelaskan bahwa dalam bekerja di suatu perusahaan, kita juga harus bisa menorehkan prestasi yang nantinya dapat diwariskan kepada perusahaan. Misalnya, membuat program yang menjawab masalah perusahaan, menyusun strategi yang efektif untuk sebuah proyek dan sebagainya.

 

Waspadai Ancaman Perkembangan Teknologi untuk Generasi Milenial

Tumbuh dan berkembang di era digital memudahkan generasi milenial untuk melakukan berbagai aktivitas. Namun, kepraktisan ini juga dapat menjadi bumerang bagi generasi milenial bila tidak mampu mengendalikannya.

Sumber: Lazy Money Making

Menurut Maya, generasi milenial sering kali sulit membedakan mana informasi yang kredibel, valid atau hoax. Akhirnya, ketika tidak mampu menyaring informasi, segala sesuatunya dianggap instan. Hal ini menghambat potensi mereka untuk menjadi pemimpin yang berpikir secara kritis dan bertanggung jawab dalam memberikan informasi.

 

Bangkit dari Kegagalan

Kegagalan sudah menjadi bagian dari perjalanan menuju sukses. Maya pun bercerita kalau ia juga sering mengalami kegagalan. Namun, kuncinya adalah siap untuk bangkit lagi dan belajar dari kesalahan.

“Jangan pernah berpikir bahwa kesuksesan dalam karir atau hidup itu bisa dicapai melalui waktu yang singkat. There is no shortcut to success. Sudah terbukti orang sukses membutuhkan integritas, komitmen, dan kerja keras,” tutupnya. (SJV)

 

 

Tinggalkan Balasan

Chat di WhatsApp