Berkontribusi untuk Pembangunan Global Melalui Program dari University of Nottingham Malaysia
25 Februari 2018
3 Faktor Utama Alasan Studi di Kanada
28 Februari 2018

Timothy Astandu: Lulus PhD di Usia Muda dan Kontribusinya untuk Negeri

Sumber: @timoventures (ig)

Mengejar pendidikan setinggi mungkin merupakan impian banyak orang. Bagaimana tidak? Seperti yang diungkapkan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.

Impian itulah yang telah dicapai Timothy Astandu. Ia berhasil meraih gelar P.h.D dari universitas terkemuka dunia, University of Cambridge, saat berusia 26 tahun. Melihat latar belakang pendidikan pria yang kini berusia 28 tahun ini, tak dapat dipungkiri kalau kita akan berdecak kagum.

Timothy Astandu, lulusan universitas terkemuka dunia. Sumber: CJBS Insight – University of Cambridge

Timothy lulus program Bachelor of Science in Human Resource Management and Services pada 2010 di London School of Economics. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan Master of Science in Modern Chinese Studies, Distinction di University of Oxford dan lulus pada 2011. Dalam progress ke program P.h.D, ia meraih Master of Philosophy in Innovation, Strategy, and Organisation di University of Cambridge, hingga akhirnya, ia berhasil memperoleh gelar P.h.D in Leadership and Management Studies pada 2016.

Melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang paling tinggi rupanya tidak pernah terencanakan sebelumnya oleh Timothy, melainkan karena adanya situasi dan kesempatan.

“Kebetulan saat itu belom pengen balik ke Indonesia. Kalau aku balik ke Indonesia, belom tentu bisa belajar ke luar negeri lagi. Menurut aku belajar itu momentum. Kalau belajar tiga sampai empat tahun, pasti belajar untuk S3-nya jadi males.

“Karena ada kesempatan, makanya termotivasi. Tapi motivasi itu juga dari diri sendiri. Dari dulu hobi riset dan mengetahui hal baru, especially tentang perusahaan-perusahaan, organisasi,” ungkap Timothy dalam wawancara bersama SUN dalam acara UK & Europe Education Expo pada hari Minggu, 11 Februari 2018 di Jakarta.

Kuliah selama tujuh sampai delapan tahun tidak menutup kemungkinan kalau Timothy juga pernah jenuh. Namun, ia meyakini kalau memang dari awal kita passionate dengan apa yang kita jalani, kita tak akan menganggap itu sebuah kejenuhan.

Apa yang memotivasinya menyelesaikan pendidikan PhD adalah karena ketertarikannya dalam bidang riset. Ia ingin terus mengembangkan sesuatu yang baru dan bisa berkontribusi dalam mengembangkan perekonomian Tanah Air di bidang riset.

Dalam merealisasikan minatnya itu, ia juga melebarkan sayapnya sebagai Managing Director di Populyx, start-up company yang bergerak di bidang riset untuk membantu perusahaan-perusahaan Indonesia dalam membangun bisnis melalui riset pasar Populyx. Ke depannya, ia ingin membangun perusahaan yang bisa menjual sahamnya masuk ke indeks Compass 50.

 

Pengalaman Menarik Studi di UK

Alasan Timothy menempuh studinya di UK rupanya karena kesukaannya menonton petandingan bola.

“Karena kuliah di UK jadi bisa nonton bola, bisa sambil jalan-jalan. Aku dari dulu hobinya jalan-jalan dan UK is a perfect place untuk jalan-jalan.”

Seluruh kehidupan kuliahnya di UK memang selalu membawa pengalaman menarik baginya, tapi juga mendatangkan tantangan sendiri.

“Tantangannya dari segi finansial mahal. Untungnya aku bukan tipe yang boros. Dari segi cuaca dan adaptasinya berat, tapi karena aku suka travel, jadi gampang banget adapt-nya.”

 

Hobi “Travelling”

Selain menyelesaikan jenjang pendidikan di Inggris dan bisa menolong banyak orang, impian yang sudah tercapai lainnya adalah bisa jalan-jalan keliling dunia. Kini, ia sudah menjelajahi lebih dari 100 negara.

Timothy Astandu

Timothy Astandu sewaktu travelling ke Qatar. Sumber: Instagram Timothy @timoventures

 

Ketertarikannya dengan travelling bermula dari ibunya Timothy yang ternyata merupakan penulis konten untuk majalah National Geographic Indonesia. Ia mengaku kalau keluarganya sendiri senang menyimpan kenangan. Menurutnya kenangan bisa disimpan sampai selamanya, ketimbang mengkoleksi barang-barang yang punya “masa berlaku”nya.

Selama  travelling, Timothy kerap mencicipi makanan lokal dan mengikuti kegiatan penduduk lokal. Terkahir ketika diwawancarai, ia baru saja kembali dari Cape Verde, negara kepulauan sekitar 350 km dari barat daya Afrika. Selanjutnya, ia akan pergi ke Korea untuk mengunjungi kekasih.

 

Tips Masuk Universitas Unggulan

Menurut Timothy, hal terpenting dalam mendaftar ke universitas unggulan adalah jangan gampang menyerah dan “mastering the system”. Maksudnya, selain berusaha, kita juga harus mengerti apa yang universitas inginkan dari “output” yang kita berikan.

Believe in yourself and work hard. Yang penting ikut aja tips-tipsnya (tips masuk universitas luar negeri). Kalau misalnya gagal juga jangan kecewa. It’s a learning step. Just do your best. Semua orang itu kesempatannya beda-beda. If you just do your best, you will be satisfied.” (SJV)

 

Tinggalkan Balasan