Bellerbys College UK: Mengantarkan Siswa ke Universitas Terbaik
11 Juni 2018
Mencicipi Pengalaman Memasak di Le Cordon Bleu Malaysia
4 Juli 2018

Putri Tanjung: Siap Mengubah Dunia Lewat Creativepreneur

Processed with VSCO with c1 preset

Bagi seorang anak konglomerat, menjalani kehidupan serba mewah tanpa perlu bekerja keras sudah jadi hal biasa. Namun, tidak demikian dengan Putri Indahsari Tanjung (21). Anak pertama pengusaha kaya, Chairul Tanjung, ini justru bergerak aktif menciptakan karya kreatif dan inspirasional di bidang event organizer (EO): Creativepreneur Event Creator. Tak tanggung-tanggung, mahasiswi Multimedia Communication, Academy of Art University, Amerika Serikat, ini bahkan berani merintis bisnisnya dari nol, tanpa mengandalkan nama besar sang ayah.

Kepada SUN, Putri Tanjung menuturkan secara eksklusif mengenai perjuangannya menjalankan bisnis EO dan upaya meraih mimpi-mimpinya. Berikut ini petikan wawancaranya…

Hai, Putri! Ceritain dong, kesibukan kamu saat ini….

Aku lagi off kuliah, nih, sejak Mei. Dan bakalan ada di Jakarta sampai September. Kalau sekarang ini aku lagi sibuk ngurusin bisnis Creativepreneur. Beberapa projek acara masih berjalan, salah satunya talkshow. Selain itu, aku juga lagi ngejalanin campaign #MudaBergerak, sebuah gerakan mengumpulkan 300 komunitas anak muda kreatif di seluruh Indonesia. Bersama tim, kami menyeleksi 300 komunitas itu menjadi lima terbaik. Nah, lima komunitas terpilih itu kami beri bekal pelatihan digital tentang cara bikin aplikasi, website, dan social media marketing.

Sepertinya kamu punya passion besar di dunia wirausaha, ya?

Betul sekali. Aku terinspirasi dari Bapak. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat perjuangan Bapak sebagai seorang pengusaha yang luar biasa. Dan, hal itu bikin aku tertarik juga menggeluti dunia wirausaha. Di usia 15 tahun, aku udah bikin bisnis EO kecil-kecilan. Dari situlah aku mulai bisa merasakan susah dan capeknya cari uang sendiri. Tapi, justru hal itu lah yang bikin aku semakin tertantang mendalami dunia wirausaha.

Terlahir sebagai anak Chairul Tanjung, apa kamu merasa terbebani?

Oh, pasti. Orang-orang jadi berekspektasi tinggi banget pada aku. Mereka mungkin nggak tahu bahwa didikan Bapak sangat keras. Waktu merintis usaha dulu, aku nggak dikasih uang sepeser pun oleh Bapak. Tapi, aku sangat bersyukur karena bisa belajar banyak tentang bisnis dan di-mentorin langsung oleh Bapak.

Bagaimana cerita awal kamu mendirikan bisnis Creativepreneur?

Idenya datang dari pengamatan aku di tahun 2015. Waktu itu, aku melihat nggak ada event yang edukatif, inspiratif, tapi entertaining at the same time. Kalaupun ada, acaranya makan waktu berhari-hari dengan konsep berupa seminar yang membosankan. Nah, dari situlah aku tergerak bikin acara yang sangat menghibur, menginspirasi, dengan harga tiket yang enggak mahal mahal agar semua orang bisa datang.

Apa saja tantangan yang kamu hadapi dalam menjalankan bisnis itu?

Paling susah sih, bagi waktu antara kuliah dan kerja jarak jauh via Jakarta-San Fransisco.  Juga, soal mencari sponsorhip seiring dengan era digital dan industri yang saat ini bergerak  sangat cepat.

Lalu, gimana cara kamu mengatasinya?

Soal manajemen waktu, aku berupaya untuk bikin skala prioritas. Apa yang jadi prioritas akan aku kerjakan dulu. Sedangkan kalau soal sponsorship, aku menetapkan strategi untuk terus aktif berkarya. Beberapa caranya  dengan mencari ­added value dari creativepreneur itu sendiri, mencari tahu karakter customer, dan terus berjuang dengan tim.

Putri Tanjung saat menjadi pembicara di acara sosial salah satu komunitas yang terpilih di gerakan #MudaBergerak. Foto: SUN

Nah, ngomongin soal Ramadan, cerita dong pengalaman kamu menjalani puasa di Amerika…

Ramadan di sana berlangsung lama, karena musim panasnya panjang. Aku buka puasa bisa sampe jam 9 malam. Tapi, puasa jadi lebih seru karena banyak banget mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Kami biasanya ngumpul untuk sahur dan buka bersama. Soal menu, kami biasanya beli makanan halal yang bisa dicari tahu di aplikasi.

Bagaimana cara kamu merayakan lebaran?

Biasanya kalau lebaran, aku dan keluarga ke rumah eyang dari pihak ibu. Setelah itu, kita ke rumah nenek dari pihak bapak. Baru deh, kami biasanya mengadakan open house. Lebaran tahun ini, kami berencana jalan-jalan ke Sumba, NTT, setelah mengadakan open house.

Makanan apa yang paling dikangenin saat berada di Amerika?

Rendang dan sambal. Sebenarnya ada sih, masakan Indonesia di Amerika. Tapi, rasanya kurang nendang seperti di Indonesia. Aku juga kangen masakan nenek yang sering kali masak masakan Padang.

Nah, bicara soal studi, nih. Kenapa sih kamu bela-belain kuliah jauh sampai ke San Fransisco, Amerika?

Sejak kecil, aku punya passion untuk bekerja di industri kreatif dan ingin belajar Multimedia Communication. Nah, kebetulan peluang untuk belajar di industri kreatif lebih besar di Amerika. Pilihanku jatuh ke Academy of Art University, karena suka dengan lokasi kotanya, di San Fransisco. Lagipula, udah dari kecil aku pengen banget masuk ke universitas itu.

Bagaimana pengalaman kamu belajar di Academy of Art University?

Aku masuk kuliah pada Juli, 2015. Pengalaman belajar di sana seru banget! Materi kuliah bersifat hands-on dan skill-oriented. Aku bener-bener diajarin cara kerja di sebuah industri secara langsung. Nggak banyak tes dan ujian, tapi langsung praktik. Materinya seperti bikin script, mengoperasikan kamera, dan advertising. Aku bahkan berkesempatan bantuin profesor.

Putri Tanjung

Putri Tanjung kini fokus dengan menyelesaikan pendidikan sarjananya di Academy of Art University di Amerika. Foto: SUN

Bagaimana aplikasi Ilmu Multimedia Communication dalam bisnis kamu?

Ilmu yang aku pelajari selama kuliah sangat nyambung dengan bisnis EO dan agensi yang lagi aku jalani. Kampus aku juga sangat mendukung kegiatan dan profesi aku di bidang creativepreneurship. Banyak peluang yang bisa aku peroleh di sana. Salah satunya, dengan menjadi pembicara di seminar Career Night.

Wah, kamu aktif sekali ya di kampus?

Betul. Selain menjalani jadwal kuliah yang padat, aku juga sempat bergabung di organisasi Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias). Di situ, aku dipercaya menjadi  Wakil Presiden. Tapi, aku sekarang sudah ‘pensiun’ di Permias, karena mau fokus kuliah. Inginnya sih, aku bisa lulus kuliah tahun depan.

Apa impian yang belum tercapai saat ini?

Banyak banget! Tapi yang pasti, aku ingin menjadikan bisnis Creativepreneur sebagai perusahaan kreatif yang bisa terus berkontribusi untuk industri kreatif di Indonesia. Juga, bisa menjadi wadah untuk seluruh anak muda Indonesia menyalurkan aspirasinya.

Sebagai generasi milenial, bagaimana kamu mengamati potensi milenial di masa depan?

Sangat besar! Di masa depan, generasi milenial akan jadi populasi paling besar. Maka dari itu, sangat penting bagi milenial saat ini untuk menentukan di bidang apa ia ingin bergerak dan berkarya,

Apa yang kamu harapkan dari generasi milenial?

Generasi milenial tidak boleh lupa bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Segala sesuatu butuh proses panjang. Dengan proses itulah kalian akan belajar banyak. Bila kalian ingin berkarya, cintailah segala prosesnya, termasuk jatuh-bangun dan kegagalan. Jadi, untuk generasi milenial, jangan takut untuk bermimpi setinggi mungkin. Berkaryalah untuk banyak orang dan jangan lupa beri kontribusi juga untuk bangsa Indonesia. Dream Big and Make It!

Teks: Syeba Jubilee Victoria

Tinggalkan Balasan

Chat di WhatsApp