Destinasi Studi
watermark
SUN Education Group

/

News Id

/

10 Jurusan Dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Hindari!

10 Jurusan Dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Hindari!

Author: Jonathan Kristinus

Updated: 06 February 2026

Memilih jurusan kuliah merupakan keputusan paling krusial yang akan kamu hadapi sebagai calon mahasiswa. Namun, data terbaru menunjukkan realitas yang mungkin mengejutkanmu, karena tidak semua jurusan kuliah menjamin prospek kerja yang cemerlang. Berdasarkan informasi dari Federal Reserve Bank of New York dan berbagai sumber terpercaya, beberapa jurusan justru memiliki tingkat pengangguran yang tinggi, bahkan melampaui rata-rata nasional.

Jurusan Tingkat Pengangguran
Antropologi 9,4%
Fisika 7,8%
Teknik Komputer 7,5%
Seni Komersial & Desain Grafis 7,2%
Seni Rupa 7,0%
Sosiologi 6,7%
Ilmu Komputer 6,1%
Kimia 6,1%
Sistem Informasi & Manajemen 5,6%
Kebijakan Publik dan Hukum 5,5%

Maka dari itu kali ini bersama SUN Education kita akan sedikit mengupas mengapa jurusan-jurusan diatas sampai bisa memiliki tingkat pengangguran yang tinggi.

Antropologi (9,1% Tingkat Pengangguran)

Antropologi menempati posisi teratas dalam daftar jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi. Salah satu alasan utama jurusan antropologi punya prospek kerja yang rendah adalah terbatasnya peluang kerja yang spesifik untuk lulusan antropologi di sektor swasta. Ketika HRD melihat CV-mu, pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah: "Bagaimana studi tentang ritual suku pedalaman bisa membantu kami mengembangkan aplikasi mobile?"

Inilah yang disebut dengan "translation gap" - kesenjangan antara apa yang kamu pelajari dengan apa yang dibutuhkan industri. Bhakan sebagian besar peluang kerja antropologi terpusat pada institusi akademik, museum, dan lembaga penelitian yang memiliki posisi terbatas. Selain itu, gaji yang ditawarkan sering kali tidak kompetitif dibandingkan jurusan lain, sehingga banyak lulusan memilih profesi lain yang tidak sesuai dengan background pendidikan mereka.  

BACA JUGA: 12 Jurusan Kuliah di Luar Negeri Terfavorit, Incar yang Mana?  

Fisika (7,8% Tingkat Pengangguran)

Meskipun merupakan ilmu fundamental dan sering dijuluki "ratu dari semua ilmu", ternyata jurusan ini menghadapi tantangan signifikan dalam pasar kerja. Paradoks ini terjadi karena sebagian besar lulusan fisika memerlukan kualifikasi tambahan atau spesialisasi yang lebih mendalam untuk dapat bersaing di industri. Untuk memahami fenomena ini, bayangkan sebuah piramida.

Di puncak piramida, terdapat posisi-posisi penelitian yang sangat prestisius dan bergaji tinggi, misalnya seperti fisikawan di CERN atau laboratorium nasional. Untuk bisa meraih posisi-posisi pastinya sangat sulit dan terbatas, bahkan biasanya memerlukan gelar PhD serta pengalaman penelitian yang ekstensif. Sementara itu di dasar piramida, terdapat ribuan lulusan sarjana Fisika yang bersaing untuk posisi entry-level. 

Teknik Komputer (7,5% Tingkat Pengangguran)

Hasil ini mungkin mengejutkan buat kamu, karena mengingat industri teknologi sedang mengalami perkembangan pesat. Untuk memahami ini, kita perlu melihat pada fenomena yang disebut "tech bubble burst". Sebagai pengingat,  selama pandemi COVID-19 silam terjadi lonjakan dramatis dalam permintaan untuk teknologi. Perusahaan-perusahaan tech berlomba-lomba merekrut engineer bahkan "menculik" mereka dari tempat kerja sebelumnya.

Selain itu startup bermunculan seperti jamur di musim hujan, dan mengakibatkan gaji programmer mencapai level yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Fenomena ini menciptakan "gold rush mentality" yang membuat semua orang ingin menjadi programmer, bahkan banyak orang yang sampai switch career. Namun semua masa tersebut sudah lewat, dan hasilnya? Oversupply yang masif ketika bubble tech mulai mengempis.

Selain itu AI dan machine learning mulai mengambil alih tugas-tugas coding yang repetitif. Tools seperti GitHub Copilot dapat menulis kode basic dengan sangat cepat. Hal ini membuat banyak pekerjaan entry-level untuk programmer yang dulunya menjadi stepping stone bagi fresh graduate mulai berkurang.  

BACA JUGA: 15 Jurusan Kuliah Untuk Orang Yang Tidak Terlalu Pintar  

Seni Komersial & Desain Grafis (7,2% Tingkat Pengangguran)

Industri desain grafis mengalami transformasi yang sangat dramatis dalam dekade terakhir, apalagi sejak kemunculan AI Generated image. Dulu untuk membuat logo atau poster memerlukan keahlian khusus dalam menggunakan software seperti Adobe Illustrator atau Photoshop. Seorang desainer grafis memiliki "monopoli" dalam menciptakan materi visual yang profesional dengan mematok harga sesuai keinginan.

Namun kemunculan tools AI Generatif seperti DALL-E, Midjourney, SORA (Chatgpt) dan Stable Diffusion telah mendemokratisasi kemampuan untuk menciptakan konten visual. Hal ini membuat banyak small business owner (UMKM) tidak perlu merekrut desainer dan hanya perlu menggunakan AI untuk generate puluhan opsi gambar dalam hitungan menit dengan biaya yang jauh lebih murah.

Bahkan untuk pekerjaan desain yang rumit banyak perusahaan lebih memilih freelancer atau desainer berpengalaman dibandingkan fresh graduate. Perubahan ini menciptakan skill gap yang besar dan membuat banyak lulusan desain grafis menganggur.

Seni Rupa (7,0% Tingkat Pengangguran)

Seni Rupa sering dianggap sebagai jurusan yang "romantis" tetapi tidak praktis. Tingkat pengangguran 7,0% seolah-olah menegaskan stereotype ini. Namun, untuk memahami tantangan yang dihadapi lulusan Seni Rupa, kita perlu melihat lebih dalam pada struktur industri seni dan bagaimana definisi "pekerjaan" dalam konteks seni. Berbeda dengan profesi lain yang memiliki career path yang linear dan jelas, dunia seni memiliki karakteristik yang sangat unik.

Seorang seniman mungkin tidak memiliki "pekerjaan" dalam pengertian tradisional, karena mereka tidak duduk di cubicle dari jam 9 sampai 5. Sebaliknya para seniman menggabungkan berbagai sources of income seperti menjual karya, mengajar workshop, bekerja sebagai kurator freelance, atau bahkan mengambil part-time job di bidang lain untuk mendukung praktik seni mereka.

Namun, tantangan nyata yang dihadapi lulusan Seni Rupa adalah bagaimana membangun sustainable career dalam industri yang sangat kompetitif dan unpredictable ini. Pasar seni sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor subjektif seperti tren, selera kolektor, dan network yang dimiliki seniman.

Sosiologi (6,7% Tingkat Pengangguran)

Sosiologi menghadapi tantangan yang menarik dalam era digital ini. Di satu sisi, pemahaman tentang perilaku manusia dan dinamika sosial menjadi semakin penting ketika perusahaan berusaha memahami consumer behavior di platform digital. Di sisi lain, banyak perusahaan tidak memiliki posisi yang secara eksplisit mencari "sosiolog." Kita perlu melihat pada fenomena yang disebut "skill translation challenge."

Sebagai lulusan Sosiologi, kamu memiliki kemampuan yang sangat berharga: memahami bagaimana individu berinteraksi dalam grup, menganalisis tren sosial, dan memprediksi perubahan dalam masyarakat. Namun, bagaimana kamu menjelaskan kepada hiring manager bahwa kemampuan menganalisis stratifikasi sosial dapat membantu mereka dalam market segmentation?

Tantangan lain adalah bahwa banyak fungsi yang tradicionalnya dilakukan oleh lulusan Sosiologi kini dilakukan oleh data scientist atau market researcher dengan background yang lebih technical. Ketika perusahaan ingin memahami customer behavior, mereka mungkin lebih memilih seseorang yang bisa menganalisis big data dibandingkan seseorang yang memahami social theory.

Ilmu Komputer (6,1% Tingkat Pengangguran)

Fakta bahwa Ilmu Komputer memiliki tingkat pengangguran 6,1% mungkin mengejutkan banyak orang. Bukankah kita hidup di era digital dimana programmer sangat dibutuhkan? Untuk memahami paradoks ini, kita perlu melihat pada several layers of complexity dalam industri teknologi. Pertama ada fenomena yang disebut "skill mismatch."

Kurikulum Ilmu Komputer di banyak universitas masih berfokus pada fundamental computer science seperti algorithms, data structures, dan theoretical concepts. Sementara itu, industri membutuhkan orang yang dapat membangun produk, bekerja dengan kerangka kerja modern, dan memahami bisnis. Gap antara academic knowledge dan practical skills ini sangat nyata. Kemudian hal yang sering terjadi yaitu "experience paradox." Posisi entry-level membutuhkan pengalaman, tetapi bagaimana freshgraduate bisa mendapatkan pengalaman jika tidak ada yang mau mempekerjakan mereka?

Perusahaan-perusahaan teknologi kini lebih selektif. Mereka lebih memilih kandidat yang memiliki portofolio kuat, kontribusi sumber terbuka, atau pengalaman magang yang relevan. Selain itu lulusan computer science juga harus menghadapi “tekanan spesialisasi”. Dulu menjadi "programmer" sudah cukup spesifik, tapi saat ini, perusahaan mencari yang lebih spesifik seperti "React developer", "DevOps engineer", atau "machine learning specialist".

Terakhir AI mulai mengubah sifat pekerjaan pemrograman pada bidang ini. Tugas pengkodean dasar yang dulunya dilakukan oleh pengembang junior kini bisa diotomatisasi. Berarti bahwa permintaan untuk pekerjaan pemrograman tingkat pemula menurun, sementara permintaan untuk pengembang senior yang bisa bekerja dengan AI dan memecahkan masalah kompleks semakin meningkat.

Kimia (6,1% Tingkat Pengangguran)

Sebagai salah satu ilmu fundamental, kimia juga menghadapi tantangan yang kompleks dalam translasi dari pengetahuan akademis ke aplikasi industri. Tingkat pengangguran 6,1% mencerminkan beberapa masalah struktural dalam industri kimia dan farmasi. Adanya "scale gap" antara praktik laboratorium selama kuliah dengan industri sering kali tidak sinkron.

Selama belajar di laboratorium universitas, kamu mungkin bekerja dengan sampel dalam ukuran milliliter atau gram. Padahal kalau di industri, kamu harus memahami bagaimana scaling up reaksi terhadap ribuan liter sambil mempertahankan kualitas, keamanan, dan efektivitas biaya. Kemudian kimia industri mengalami banyak perubahan “kompleksitas peraturan”.

Setiap senyawa atau proses baru harus melalui prosedur pengujian dan persetujuan yang ekstensif. Hal ini membuat industri sangat enggan mengambil risiko dan lambat dalam mengadopsi teknologi baru atau merekrut personel baru. Perusahaan lebih memilih ahli kimia berpengalaman yang memahami lanskap peraturan. Tidak hanya bidang IT saja, tapi kimia juga terdampak oleh perkembangan AI.

Banyak tugas rutin laboratorium kini dapat diotomatisasi dengan peralatan penyaringan throughput tinggi atau sistem robotik. Hal ini mengurangi permintaan teknisi laboratorium dan ahli kimia tingkat pemula yang terutama melakukan analisis rutin.

Sistem Informasi & Manajemen (5,8% Tingkat Pengangguran)

Saat ini jurusan Sistem Informasi dan Manajemen menghadapi identity crisis di era digital. Secara historis, lulusan jurusan ini berperan sebagai jembatan antara bisnis dan teknologi. Mereka memahami proses bisnis dan bisa berkomunikasi dengan departemen TI untuk menerapkan solusi teknologi. Namun, beberapa tren mengubah lanskap dengan “demokratisasi teknologi.” seperti Cloud Computing, SaaS, dan platform tanpa kode.

Hal ini membuat bisnis dapat mengimplementasikan solusi teknologi tanpa memerlukan pengetahuan teknis yang luas. Selain itu Perusahaan kini lebih memilih spesialis dibandingkan generalis. Mereka lebih memilih analis bisnis yang ahli dalam domain tertentu atau profesional TI yang mendalami tumpukan teknologi tertentu, dibandingkan lulusan SIM yang memiliki pengetahuan luas namun dangkal.

Apalagi AI dan otomatisasi mulai mengambil alih banyak tugas rutin manajemen informasi memperburuk situasi ini. Sistem yang dulu perlu dimanage secara manual kini dapat dimonitor dan dioptimalkan secara otomatis.

Kebijakan Publik dan Hukum (5,5% Tingkat Pengangguran)

Sektor publik dan legal memiliki struktur karir yang sangat hierarkis dan proses rekrutmen yang panjang. Banyak posisi di pemerintahan memerlukan proses seleksi yang ketat dan sering kali memiliki kuota terbatas. Untuk sektor legal, persaingan antar fresh graduate sangat tinggi, terutama untuk posisi legal pada beberapa law firm.

Banyak posisi menuntut pengalaman atau gelar tinggi, dan persaingan untuk pemula sangat ketat, ditambah lagi dengan tantangan untuk lulus ujian yang menjadi prasyarat utama. Selain itu fluktuasi politik, perubahan anggaran, dan kebijakan juga bisa memengaruhi ketersediaan pekerjaan di sektor publik.

Meskipun begitu, pertumbuhan bidang baru seperti hukum siber dan privasi data menawarkan peluang yang menjanjikan seiring dengan pesatnya transformasi digital.

Untuk informasi mengenai studi di luar negeri dan juga berbagai jurusan, kamu bisa temukan informasi aktualnya di sini. SUN Education bekerja sama dengan berbagai institusi top dunia di luar negeri seperti Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, Inggris, Eropa, Jerman, dan juga Asia. Jika membutuhkan informasi terkini, follow media sosial SUN Education di Instagram, TikTok dan YouTube. Kamu juga bisa melakukan konsultasi GRATIS melalui Hotline di 0821 33 34 35 36 atau datang langsung ke kantor SUN Education yang terdekat di kotamu.  

Download SUN Education Mobile App atau baca SUN E-Guidebook untuk akses informasi lebih mudah dan GRATIS!

Related Posts


Connect with SUN Education


Enter your details and get a free counselling session with our experts so they can connect you to the right course, country, and university.

Select...

Select...
Select Study Destination...
Select Major...

Select...

By checking this box, you agree to be contacted by SUN Education and its partner universities/collages via email/text message/phone