Author: Jonathan Kristinus
Updated: 27 March 2026
Setiap tahun, jutaan orang rela meninggalkan zona nyaman mereka demi mengejar peluang yang lebih besar di kota lain. Bukan hal yang mudah, apalagi kalau kamu harus mengatur keuangan dari nol di tempat yang asing. Yang bikin banyak orang urung melangkah biasanya bukan soal keberaniannya, tapi kalkulasi biaya hidup yang terasa menakutkan sebelum dicoba. Makanya kali ini SUN Education akan berbagi mengenai kota mana saja di Indonesia dengan biaya hidup termahal dan termurah.
Indonesia punya banyak kota yang justru ramah di kantong tanpa mengorbankan kualitas hidup. Berikut ini sepuluh kota dengan biaya hidup termurah berdasarkan data BPS yang wajib masuk radar kamu sebelum memutuskan merantau.
Cilacap memegang predikat kota dengan biaya hidup termurah di Indonesia versi BPS, yakni rata-rata Rp5,37 juta per bulan untuk satu rumah tangga. Buat kamu yang merantau sendirian, angka ini bisa ditekan lebih jauh lagi.
Kos sederhana di sini dibanderol Rp400 ribu sampai Rp600 ribu per bulan, banyak yang sudah termasuk air dan listrik dasar. Kalau kamu rajin masak sendiri, belanja bahan mentah di Pasar Gede Cilacap cukup Rp20 ribu sampai Rp30 ribu per hari untuk menu bergizi. Listrik dan air kalau dibayar terpisah sekitar Rp150 ribu sampai Rp250 ribu.
Transportasi? Ojek online atau angkot cukup Rp150 ribu sebulan. Kota pelabuhan ini juga punya peluang kerja di sektor industri minyak dan perikanan, jadi cocok banget buat kamu yang mau kerja sambil nabung dari bulan pertama.
Kalau kamu punya jiwa petualang tapi tetap mau jaga dompet, Maumere di Flores adalah pilihan yang jarang terpikirkan tapi menggiurkan. Biaya hidup rata-ratanya Rp5,52 juta per bulan berdasarkan data BPS.
Kontrakan sederhana dekat kampus atau pelabuhan bisa kamu dapat di kisaran Rp400 ribu sampai Rp700 ribu. Untuk urusan makan, ikan laut segar, kangkung, dan ayam kampung dari pasar lokal cukup Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per hari kalau masak sendiri. Biaya listrik token berkisar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu, air PDAM atau sumur pompa sekitar Rp25 ribu.
Naik bemo atau ojek cukup Rp3 ribu sampai Rp7 ribu per perjalanan, total bulanan sekitar Rp120 ribu sampai Rp180 ribu. Satu kelemahan kecil: koneksi internet kadang lambat, tapi kedamaian lautnya sebagai gantinya.
Sibolga adalah kombinasi langka antara biaya hidup rendah dan UMR yang kompetitif. Pengeluaran rata-rata di sini Rp5,68 juta per bulan, sementara UMK Sibolga 2026 diproyeksikan mencapai Rp3,66 juta. Artinya, selisih antara pendapatan dan pengeluaran cukup lebar untuk kamu mulai menabung serius.
Kos putra atau putri dekat pasar mulai Rp300 ribu sampai Rp600 ribu, banyak yang sudah include air bersih. Masak sendiri dengan ikan tongkol, kelapa, dan rempah lokal cukup Rp25 ribu per hari. Listrik dan air sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per bulan.
Angkot atau becak motor cukup Rp4 ribu sampai Rp8 ribu per trip, total bulanan sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Kota pesisir yang dikelilingi pegunungan ini bikin hari-hari kerja terasa lebih ringan dari yang kamu bayangkan.
Kudus dikenal sebagai kota kretek, tapi sisi lainnya yang jarang disorot adalah harga kos yang termasuk paling murah di Jawa. Kamu bisa dapat kamar mulai Rp250 ribu sampai Rp500 ribu per bulan, angka yang sulit ditandingi kota lain. Biaya hidup rata-rata Rp5,71 juta per bulan.
Kalau makan di warung, satu porsi bisa kamu tebus cuma Rp10 ribu. Masak sendiri dengan beras, tahu, tempe, dan sayur dari pasar tradisional sekitar Rp20 ribu per hari. Listrik sekitar Rp70 ribu sampai Rp150 ribu, air Rp25 ribu sampai Rp40 ribu.
Ojek online atau delman per trip Rp5 ribu, total transportasi bulanan sekitar Rp130 ribu. Ekosistem industri di sekitarnya juga membuka lapangan kerja yang tidak sedikit, jadi kamu tidak perlu lama-lama hunting pekerjaan setelah tiba.
Tegal bukan cuma soal warteg yang melegenda di seluruh Indonesia, tapi juga soal biaya hidup yang bikin kamu bisa napas lega. Rata-rata pengeluaran bulanan di sini Rp5,86 juta. Kos atau kontrakan dekat stasiun mulai Rp350 ribu sampai Rp750 ribu.
Di kota asalnya, satu porsi nasi warteg dengan lauk lengkap bisa kamu nikmati mulai Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Kalau masak sendiri, bahan seperti ikan laut, tahu pong, dan bumbu pasar cukup Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per hari. Listrik token Rp75 ribu sampai Rp120 ribu, air PDAM Rp30 ribu.
Transportasi angkot atau becak biayanya Rp3 ribu sampai Rp6 ribu per trip, total bulanan sekitar Rp140 ribu. Posisi Tegal di jalur Pantura juga membuat harga barang kebutuhan pokok sangat kompetitif karena arus distribusi logistiknya tidak pernah macet.
Purwokerto adalah kota pelajar yang nyaman tanpa drama. Biaya hidup rata-rata Rp5,88 juta per bulan, tapi buat kamu yang tinggal sendiri, bisa ditekan jauh di bawah angka itu. Kos dekat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mulai Rp300 ribu sampai Rp700 ribu, banyak yang sudah include WiFi dasar dan dapur bersama.
Masak nasi goreng sayur atau sup daging sendiri cukup Rp20 ribu per hari. Bahan mentah seperti tomat, cabai, dan ayam kampung terbilang murah karena pasokan langsung dari petani lereng Gunung Slamet. Listrik sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu, air Rp25 ribu. Angkot atau ojek biasanya Rp4 ribu sampai Rp8 ribu per trip, total bulanan Rp120 ribu. Udaranya sejuk, jadi pengeluaran listrik untuk pendingin ruangan otomatis berkurang drastis.
Bali tidak selalu mahal kalau kamu tahu caranya berhemat. Singaraja di bagian utara Bali punya biaya hidup rata-rata Rp5,97 juta per bulan, jauh lebih ringan daripada Denpasar atau Kuta. Kos sederhana mulai Rp250 ribu per bulan, sedangkan yang lebih lengkap dengan kamar mandi dalam sekitar Rp700 ribu sampai Rp1 juta.
Di Pasar Anyar, kamu bisa belanja harian dengan bujet tipis karena beras premium Rp12 ribu per kg, ayam Rp38 ribu per kg, dan sayur organik lokal murah meriah. Masak sendiri menghabiskan sekitar Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per hari, lalu untuk biaya Listrik Rp80 ribu, air Rp35 ribu. Ojek atau angkot biayanya sekitar Rp150 ribu per bulan. Banyak mahasiswa Undiksha bilang pasar malam di sini jadi andalan untuk isi perut dengan harga yang ramah di akhir bulan.
Di ujung Pulau Madura ada kota tenang bernama Sumenep dengan biaya hidup rata-rata Rp5,99 juta per bulan. Kontrakan sederhana dekat pelabuhan atau kampus bisa kamu dapat mulai Rp350 ribu sampai Rp800 ribu.
Kalau masak sendiri, menu ikan asin, urap sayur, dan nasi jagung cukup Rp18 ribu sampai Rp28 ribu per hari dengan bahan mentah dari pasar tradisional yang murah. Listrik bulanan sekitar Rp65 ribu, air PDAM Rp25 ribu. Becak atau motor sewa sekitar Rp300 ribu per bulan, sementara per trip hanya Rp3 ribu sampai Rp5 ribu.
Bonus terbaik tinggal di Sumenep adalah festival budaya lokal yang bisa kamu nikmati gratis sepanjang tahun. Masyarakatnya yang dikenal pekerja keras dan hemat juga bakal ikut menularkan kebiasaan positif itu ke kamu.
Jember bukan sekadar kota fashion carnival, tapi juga kota yang ramah buat kantong perantau. Biaya hidup rata-rata Rp6,09 juta per bulan. Kos mahasiswa mulai Rp450 ribu sampai Rp1 juta tergantung fasilitas.
Kalau masak sendiri, belanja mingguan di pasar dengan anggaran Rp150 ribu sudah cukup untuk stok bahan lengkap. Harga per hari sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. Makan di luar? Pecel rawon cuma Rp15 ribu per porsi. Listrik dan air sekitar Rp150 ribu sampai Rp250 ribu per bulan. Angkot atau transportasi online Rp140 ribu per bulan.
Hasil perkebunan kopi dan pertanian subur di sekitarnya membuat harga sembako stabil sepanjang tahun. Kalau kamu kuliah di Universitas Jember (Unej) atau merintis karier di sektor agribisnis, kota ini punya ekosistem yang tepat untuk tumbuh.
Waingapu di Pulau Sumba mungkin bukan nama yang pertama muncul di pikiranmu saat merantau, tapi justru di situlah keistimewaannya. Biaya hidup rata-rata Rp6,15 juta per bulan, angka yang sangat kompetitif untuk standar wilayah Indonesia Timur.
Kos atau kontrakan di sini mulai Rp450 ribu sampai Rp900 ribu per bulan. Masak sendiri dengan ikan, jagung, dan kacang lokal dari pasar tradisional cukup Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per hari. Listrik prabayar biayanya sekitar Rp85 ribu, air sekitar Rp30 ribu.
Ojek atau angkot sekitar Rp160 ribu per bulan. Satu catatan penting: listrik kadang fluktuatif di beberapa area, jadi siapkan power bank sebagai antisipasi. Tapi alam Sumba yang eksotis dan budaya lokal yang kaya bakal jadi pengalaman merantau paling berkesan yang pernah kamu rasakan.
Sekarang giliran kota mana saja yang punya biaya hidup termahal di Indonesia. Sebelum nekat packing dan beli tiket, kenali dulu medan pertempurannya lewat data yang bisa kamu jadikan pegangan dibawah ini.
Tidak ada yang lebih ikonik dari merantau ke Jakarta. Kota ini bukan sekadar ibu kota, tapi juga mesin peluang yang tidak pernah tidur. Tapi biaya hidupnya benar-benar serius karena menurut Survei Biaya Hidup BPS, rata-rata pengeluaran rumah tangga di sini menyentuh Rp14,88 juta per bulan, tertinggi secara nasional.
Untuk kos, kamu bisa dapat kamar sederhana di pinggiran mulai Rp1,5 juta sampai Rp2,7 juta, biasanya sudah termasuk wifi tapi listrik dan air terpisah. Kalau rajin masak sendiri, belanja bahan mentah seperti beras, sayur, dan lauk di pasar tradisional bisa habis Rp900 ribu sampai Rp1,2 juta sebulan.
Token listrik 1300 VA biasanya Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, air PDAM sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu. Soal transportasi, kombinasi TransJakarta dan KRL adalah penyelamat, tapi kalau sering pakai ojek online bisa tembus Rp400 ribu sampai Rp600 ribu per bulan.
Jangan anggap remeh Bekasi hanya karena bukan ibu kota. Kota industri ini punya biaya hidup Rp14,33 juta per bulan versi BPS, hampir menyamai Jakarta dan bahkan mengalahkan banyak kota besar lainnya. Kawasan industrinya yang padat memang menawarkan banyak lowongan, tapi biaya hidupnya ikut terdongkrak seiring tingginya permintaan hunian.
Kos atau kontrakan di sekitar kawasan pabrik dibanderol Rp1,2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan. Belanja bahan mentah seperti ayam, sayur, dan bumbu di pasar lokal menghabiskan Rp850 ribu sampai Rp1,1 juta bulanan. Listrik sekitar Rp140 ribu, air PDAM Rp40 ribu sampai Rp60 ribu.
Yang jadi perhatian khusus adalah biaya transportasi, terutama kalau kamu commuting ke Jakarta karena kombinasi angkot, KRL, dan ojek online bisa menelan Rp500 ribu sampai Rp700 ribu setiap bulannya.
Surabaya punya energi yang khas, kota bisnis yang bergerak cepat sekaligus punya ekosistem pendidikan berkualitas. Biaya hidup rata-rata di sini Rp13,36 juta per bulan menurut BPS, menempatkannya di jajaran kota mahal nomor tiga nasional.
Kos di area dekat kampus atau perkantoran pusat seperti Gubeng bisa kamu dapat mulai Rp1 juta sampai Rp2,5 juta per bulan. Masak sendiri dengan belanja ikan laut, tahu tempe, dan sayur di pasar tradisional cukup Rp800 ribu sampai Rp1 juta sebulan. Listrik sekitar Rp130 ribu, air Rp45 ribu per bulan. Untuk mobilitas, Suroboyo Bus bisa jadi andalan karena tarif Rp4 ribu per perjalanan, tapi kalau kamu lebih nyaman naik ojek online atau angkot, siapkan budget Rp350 ribu sampai Rp550 ribu setiap bulan.
Depok sering dianggap alternatif murah dari Jakarta, padahal biaya hidupnya rata-rata Rp12,35 juta per bulan versi BPS. Tingginya jumlah mahasiswa dan pekerja komuter membuat permintaan hunian di sini terus tinggi sepanjang tahun, otomatis memengaruhi harga sewanya.
Kos di area sekitar UI atau Margonda dibanderol Rp800 ribu sampai Rp1,8 juta per bulan, kadang sudah termasuk air atau listrik. Kalau kamu rajin ke pasar tradisional untuk stok bahan masak, pengeluaran bisa ditekan di angka Rp750 ribu sampai Rp950 ribu sebulan untuk beras, daging, dan sayur.
Token listrik sekitar Rp120 ribu, air PDAM Rp40 ribu. Biaya transportasi, terutama KRL ke Jakarta dan ojek ke stasiun, biasanya habis Rp400 ribu sampai Rp600 ribu per bulan tergantung intensitas perjalanan kamu.
Makassar adalah pusat gravitasi ekonomi Indonesia Timur, dan biaya hidupnya sudah mencerminkan statusnya itu. BPS mencatat rata-rata pengeluaran rumah tangga di sini menyentuh Rp11,5 juta per bulan, didorong antara lain oleh biaya distribusi logistik yang lebih tinggi dibanding kota-kota di Jawa.
Kos standar di kawasan kampus atau pusat kota dibanderol Rp1 juta sampai Rp2 juta per bulan. Untuk makan, masak sendiri dengan bahan seperti ikan segar dan rempah lokal bisa menghabiskan Rp850 ribu sampai Rp1,1 juta bulanan, meski beberapa jenis sayuran lebih mahal karena masih harus didatangkan dari luar.
Listrik sekitar Rp130 ribu, air Rp35 ribu. Transportasi dengan ojek online atau angkot pete-pete berkisar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan, plus konsumsi AC yang sering bikin tagihan listrik sedikit melambung karena cuaca panasnya.
Tangerang bukan sekadar kota penyangga. Kawasannya yang terus berkembang pesat dengan hadirnya BSD City dan Alam Sutera membuat biaya hidup di sini sudah menapaki angka Rp10,96 juta per bulan menurut data BPS. Kedekatannya dengan Bandara Soekarno-Hatta juga membuka banyak peluang kerja di sektor logistik dan manufaktur.
Kos untuk karyawan mulai dari Rp900 ribu sampai Rp1,8 juta per bulan tergantung lokasi dan fasilitas. Belanja bahan mentah seperti ayam, sayur, dan bumbu di pasar lokal menghabiskan Rp700 ribu sampai Rp950 ribu sebulan. Listrik token sekitar Rp110 ribu, air Rp40 ribu. Kalau kamu bekerja di Jakarta, biaya bus atau ojek bolak-balik bisa mencapai Rp350 ribu sampai Rp550 ribu per bulan. Satu hal yang perlu diantisipasi adalah banjir musiman di beberapa titik yang bisa memaksa kamu muter rute lebih jauh.
Udaranya segar, pemandangannya hijau, tapi dompetmu tetap harus kencang. Bogor punya biaya hidup rata-rata Rp10,73 juta per bulan versi BPS, dan harga sewanya ikut tertarik naik karena dekatnya dengan Jakarta membuat kota ini ramai peminat sepanjang tahun.
Kos di sekitar kampus IPB atau pusat kota bisa kamu temukan di kisaran Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta per bulan, lebih terjangkau dibanding kota-kota sebelumnya. Memasak sendiri dengan sayur organik, daging, dan beras dari pasar tradisional menghabiskan sekitar Rp650 ribu sampai Rp850 ribu sebulan.
Listrik sekitar Rp100 ribu, air Rp35 ribu, keduanya relatif hemat karena cuaca dingin membuat AC jarang dipakai. Transportasi angkot lokal atau motor cukup Rp250 ribu sampai Rp400 ribu per bulan, meski macetnya bisa mendorong kamu lebih sering pakai ojek online.
Banyak orang tidak menduga Kendari masuk daftar ini, tapi datanya memang berbicara. BPS mencatat biaya hidup rata-rata di ibu kota Sulawesi Tenggara ini sudah mencapai Rp10,23 juta per bulan, sebagian besar karena harga barang konsumsi yang masih banyak bergantung pada pasokan dari luar pulau.
Kos atau kontrakan sederhana di lokasi strategis bisa kamu dapat Rp700 ribu sampai Rp1,2 juta per bulan. Masak sendiri dengan ikan laut segar, jagung, dan sayur lokal menghabiskan Rp650 ribu sampai Rp850 ribu sebulan. Listrik sekitar Rp110 ribu, air relatif murah di angka Rp30 ribu.
Transportasi angkot atau motor pribadi cukup Rp200 ribu sampai Rp350 ribu per bulan. Kota ini cocok buat kamu yang ingin kerja di sektor pariwisata atau kuliah di perguruan tinggi negeri dengan biaya hidup yang masih lebih manageable dibanding kota-kota besar di Jawa.
Posisi Batam tepat di seberang Singapura menjadikannya kota yang punya dinamika harga unik. Biaya hidup rata-rata di sini Rp10,03 juta per bulan menurut BPS, dengan karakteristik menarik karena barang elektronik bisa sangat murah tapi makanan jadi di luar relatif mahal karena banyak yang terpengaruh standar harga kawasan bebas.
Kos di area Batam Center atau Nagoya mulai Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta per bulan. Masak sendiri dengan bahan seafood lokal dan sayuran menghabiskan Rp700 ribu sampai Rp950 ribu bulanan.
Sementara untuk listrik sekitar Rp120 ribu, air Rp40 ribu. Karena sistem transportasi umum belum merata ke seluruh penjuru pulau, banyak perantau di sini mengandalkan ojek online atau kendaraan pribadi dengan biaya Rp250 ribu sampai Rp450 ribu per bulan. Peluang kerja di sektor industri dan potensi cross-border menjadi daya tarik utama kota ini.
Balikpapan menutup daftar ini sebagai kota termahal dengan biaya hidup Rp9,87 juta per bulan versi BPS. Standar hidup di sini banyak dipengaruhi oleh komunitas pekerja sektor energi yang besar, membuat harga-harga kebutuhan sehari-hari mengikuti ekosistemnya tersendiri.
Kos atau kontrakan sederhana di tengah kota dibanderol Rp900 ribu sampai Rp1,6 juta per bulan. Belanja bahan mentah seperti ikan, daging, dan buah lokal menghabiskan Rp680 ribu sampai Rp900 ribu sebulan, meski harganya fluktuatif tergantung jadwal kapal logistik yang masuk.
Biaya Listrik sekitar Rp130 ribu, air Rp35 ribu per bulan. Transportasi angkot atau motor pribadi berkisar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu sebulan. Dekatnya kota ini dengan kawasan IKN Nusantara membuat tren harga pelan-pelan merangkak naik, jadi kalau kamu berencana merantau ke sini, masukkan faktor itu dalam kalkulasi jangka panjangmu.
Untuk informasi mengenai studi di luar negeri dan juga berbagai jurusan, kamu bisa temukan informasi aktualnya di sini. SUN Education bekerja sama dengan berbagai institusi top dunia di luar negeri seperti Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, Inggris, Eropa, Jerman, dan juga Asia. Jika membutuhkan informasi terkini, follow media sosial SUN Education di Instagram, TikTok dan YouTube. Kamu juga bisa melakukan konsultasi GRATIS melalui Hotline di 0821 33 34 35 36 atau datang langsung ke kantor SUN Education yang terdekat di kotamu.
Download SUN Education Mobile App atau baca SUN E-Guidebook untuk akses informasi lebih mudah dan GRATIS!
Related Posts
Connect with SUN Education