Author: Jonathan Kristinus
Updated: 30 January 2026
Ketika memasuki lingkungan baru, seperti negara asing atau lingkungan budaya yang berbeda, kita sering mengalami apa yang disebut sebagai "culture shock" atau syok budaya. Bagi kamu yang ingin kuliah di luar negeri, kemungkinan besar akan mengalami hal ini. Norma komunikasi yang berbeda antara budaya salah satu yang menyebabkan culture shock. Maka dari itu kali ini SUN Education akan membahas tuntas mengenai culture shock mulai dari pengertian, contoh, ciri-ciri hingga cara mengatasinya.
Culture shock atau gegar budaya adalah perasaan ketidaknyamanan, kebingungan, sampai kecemasan yang muncul akibat perbedaan budaya antara lingkungan lama dengan yang baru. Istilah culture shock sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Antropologis bernama Oberg yang didefinisikan sebagai kegelisahan yang muncul karena kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial.
Simbol familiar tersebut termasuk di dalamnya cara-cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya bagaimana untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon dan sebagainya. Jadi, culture shock secara singkat merupakan reaksi emosi negatif yang dirasakan oleh individu ketika berpindah ke budaya baru yang sangat berbeda dengan budaya asalnya.
Culture shock dapat terjadi kapan saja, tetapi biasanya terjadi dalam beberapa minggu atau bulan pertama setelah pindah ke negara atau wilayah baru. Beberapa orang mungkin mengalami gegar budaya lebih cepat daripada yang lain. Saat seseorang berpindah ke negara yang memiliki budaya, bahasa, dan norma yang sangat berbeda dari asalnya, maka kemungkinan besar mereka akan mengalami culture shock. Segala hal mulai dari bahasa yang tidak dikenal, hingga adat istiadat baru, dapat menjadi pemicunya.
Walaupun antara culture shock dan culture lag mungkin terdengar sama tetapi keduanya sangatlah berbeda. Culture lag adalah keterlambatan adaptasi individu terhadap perkembangan teknologi atau perubahan budaya dalam masyarakat. Sedangkan culture shock lebih ke arah perasaan disorientasi dan ketidaknyamanan terhadap budaya yang sama sekali tidak dikenal. Mudahnya Culture shock berfokus pada menghadapi budaya yang asing atau tidak dikenal. Sedangkan Culture lag berfokus pada keterlambatan adaptasi sosial terhadap perubahan baru budaya.
BACA JUGA: 22 Culture Shock di Australia Yang Akan Kamu Temui

Suka atau tidak yang namanya culture shock akan terjadi pada siapapun yang tinggal di luar negeri dalam waktu panjang, entah sementara ataupun permanen. Apalagi jika budaya negara tujuan yang dituju memang bertolak belakang kebudayaannya. Berdasarkan riset dari Now Health International, terdapat 4 tahapan pada proses culture shock yang terjadi, yaitu:
Yang perlu kamu ingat kembali, bahwa lama waktu penyesuaian culture shock akan sangat berbeda setiap orangnya. Berikut ini penjelasan setiap tahapan-tahapan seseorang mengalami gegar budaya.
Honeymoon stage merupakan tahapan pertama seseorang mengalami culture shock. Biasanya pada tahap perkenalan ini sering ditandai dengan euforia atau perasaan senang dan terpesona dengan budaya yang baru dilihat. Tahapan pertama culture shock ini terjadi pada biasanya mulai dari minggu pertama hingga sebelum atau pas satu bulan.
Pada fase honeymoon ini, perjalanan atau pemindahan terasa seperti keputusan terbaik yang pernah diambil. Singkatnya, fase euforia atau honeymoon culture shock ini dapat memberikan seluruh pengalaman. Karena dalam waktu lama efek kejutan budaya selanjutnya akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Salah satu tahap paling sulit dalam menangani culture shock adalah frustration stage. Semua kegembiraan dari tahap pertama berangsur-angsur sudah menghilang, kemudian kamu akan dihadapkan pada situasi tidak nyaman yang mungkin menyinggungmu. Tahapan gegar budaya ini biasanya ditandai dengan perasaan frustasi dan kecemasan untuk tinggal pada lingkungan baru. Dorongan-dorongan untuk kembali ke kampung halaman akan sangat kuat, dan kebanyakan orang gagal pada fase ini. Frustration stage kemungkinan terjadi satu bulan sampai tiga bulan awal kamu tinggal.
Pada tahap selanjutnya ini rasa frustasi akibat fase frustasi berangsur-angsur mulai berkurang. Kamu akan mulai merasa lebih familiar dengan budaya, orang-orang, makanan, dan bahasa di lingkungan baru. Tahap adaptasi pada culture shock ini terjadi setelah enam hingga dua belas bulan.
Pada Adjustment stage kamu sudah belajar untuk mengatasi perbedaan dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Kamu sudah tahu apa saja yang lingkungan sekitar harapkan dalam sebagian besar situasi, dan kehidupan barumu mulai terasa normal. Bahkan terkadang pada fase ini, orang yang mengalami culture shock sudah mulai membangun hubungan dengan orang-orang lokal dan mengembangkan rasa kebersamaan.
Fase adaptasi (Acceptance Stage) adalah fase terakhir dari penanganan culture shock. Pada fase ini, kamu sudah bisa untuk beradaptasi dengan budaya baru bahkan merasa nyaman di lingkungan baru. Kamu mungkin masih mengalami beberapa kendala kecil, tetapi dengan adaptasi yang telah dilakukan tidak akan ada kendala berarti dalam menghadapinya. Seringkali fase ini juga disebut sebagai fase bikultural, karena pada fase ini kamu sudah bisa dengan mudah bernavigasi antara dua budaya yang berbeda. Acceptance stage biasanya terjadi setelah melewati waktu satu tahun pas ataupun lebih.
Dalam beberapa hal mungkin kamu masih mempertahankan nilai-nilai dan praktik dari budaya negara asalmu. Akan tetapi ada terdapat banyak nilai-nilai juga kebiasaan yang kamu lakukan dari budaya baru. Jika sudah mencapai tahap acceptance stage, Selamat ! berarti kamu sudah tidak lagi mengalami culture shock! Terlepas dari lamanya waktu adaptasi dalam menghadapi culture shock yang sudah dijabarkan, ada beberapa faktor tak terduga yang bisa mempercepat atau memperlambat prosesnya.
BACA JUGA: 15 Tips Mengatasi Culture Shock Selama Kuliah di Luar Negeri
Bagi kamu yang saat ini baru saja atau akan pergi kuliah di luar negeri, mungkin tidak tahu kapan dan bagaimana kamu akan terkena culture shock. Dalam perjalanan adaptasi ini, ada beberapa ciri-ciri yang dapat mengindikasikan bahwa kamu sedang mengalami gegar budaya.
Ketika seseorang berpindah ke lingkungan budaya yang baru, perasaan kehilangan dan kesepian seringkali muncul. Hal ini terjadi karena mereka merindukan keluarga, teman-teman, dan lingkungan yang tidak bisa mereka gapai sementara. Perasaan isolasi ini bisa menjadi tanda awal dari culture shock.
Orang yang mengalami culture shock cenderung merasa tidak nyaman dalam situasi sosial. Mereka mungkin akan kesulitan berkomunikasi dengan orang lokal, menghadapi perbedaan norma-norma sosial, dan merasa canggung dalam interaksi sehari-hari. Bahkan banyak diantaranya yang menarik diri dari kehidupan sosial.
Ketidakpastian dalam lingkungan baru dapat menyebabkan kecemasan dan stres yang tinggi merupakan salah satu ciri-ciri orang yang terkena culture shock. Segala sesuatu yang asing dan tidak dikenal bisa menjadi pemicu perasaan cemas yang berlebihan. Seringkali kecemasan tersebut membuat orang yang terkena culture shock menjadi overthinking walaupun hanya melakukan tindakan sepele yang dilihat warga lokal.
Siapapun yang terkena culture shock memiliki ciri-ciri penurunan motivasi dan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini wajar karena mereka belum terbiasa dan juga masih bingung pada banyak hal. Bahkan aktivitas yang sebelumnya dinikmati di tempat asal jadi tidak lagi menarik, dan rasa ingin pulang menjadi lebih kuat.
Dampak culture shock bisa memengaruhi pola tidur dan pola makan seseorang. Gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan seringkali terjadi karena adanya perbedaaan zona waktu atau gangguan kecemasan yang sebelumnya. Terkadang insomnia ini diiringi dengan perubahan pola makan yang kacau seperti nafsu makan yang berkurang atau meningkat secara signifikan. Kedua hal tersebut bisa menjadi ciri-ciri culture shock.
Bisa dibilang ini adalah puncak dari ciri-ciri dari orang yang terkena culture shock, yaitu mereka akan sangat ingin pulang ke negara asalnya. Mereka sudah merasa tidak kuat dan tidak nyaman. Bahkan ada beberapa diantaranya mengalami gejolak emosi sampai sakit kepala, mual, atau muntah. Hal ini biasanya terjadi karena semua ciri-ciri diatas yang diatas terjadi secara sekaligus dan mengakumulasi emosi negatif dari penderita culture shock.
BACA JUGA: 16 Culture Shock di Inggris yang Harus Kamu Antisipasi
Aksen dan Slang: Mahasiswa sering kesulitan memahami aksen "Aussie" atau "Kiwi" yang cepat serta penggunaan slang seperti "G'day" atau "Choccy bickie".
Budaya Jalan Kaki: Di New Zealand dan Australia, berjalan kaki berkilo-kilometer dari tempat tinggal ke kampus adalah hal lumrah, sangat berbeda dengan kebiasaan naik motor di Indonesia.
Toko Tutup Awal: Mahasiswa kaget karena pusat perbelanjaan sering kali sudah tutup pada pukul 17.00, berbeda dengan mall di Indonesia yang buka hingga larut malam.
Cuaca Tak Terprediksi: Di Melbourne atau Wellington, cuaca bisa berubah dari panas terik ke hujan badai dalam satu hari (four seasons in one day).
Diskusi Kelas yang Agresif: Mahasiswa Indonesia yang terbiasa pasif sering kaget dengan keaktifan mahasiswa lokal yang berani mendebat dosen secara terbuka dan informal.
Porsi Makan Raksasa: Porsi makanan di Amerika sering kali jauh lebih besar (porsi jumbo) dibandingkan porsi makan standar di Indonesia.
Kemandirian Ekstrem: Budaya individualisme sangat kental, di mana mahasiswa harus mengurus segala hal sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga atau keterlibatan keluarga besar.
Suhu Minus: Di Kanada, mahasiswa harus beradaptasi dengan musim dingin ekstrem yang bisa mencapai -30 derajat Celcius dan tumpukan salju yang menghambat mobilitas.
Logat Lokal: Meskipun menguasai bahasa Inggris, logat lokal seperti Cockney atau Scottish sering kali membuat mahasiswa Indonesia merasa seperti mendengar bahasa asing baru.
Etika Basa-basi Cuaca: Orang Inggris sering memulai percakapan dengan membicarakan cuaca, sebuah norma sosial yang jarang dipraktikkan secara formal di Indonesia.
Kurangnya Sinar Matahari: Langit yang mendung dan suram hampir sepanjang tahun sering memicu Seasonal Affective Disorder (SAD) bagi mereka yang terbiasa dengan matahari tropis.
Ritme Hidup Cepat: Mahasiswa di Singapura kaget dengan budaya Kiasu (takut kalah) dan kecepatan jalan kaki penduduk lokal yang sangat buru-buru.
Singlish dan Manglish: Penggunaan akhiran "lah", "leh", atau "lor" dalam komunikasi formal sering membingungkan mahasiswa yang terbiasa dengan bahasa Inggris baku.
Biaya Hidup: Meskipun dekat secara geografis, harga segelas air mineral atau biaya sewa kamar di Singapura bisa berkali-kali lipat lebih mahal dibanding Jakarta.
Budaya "Pali-Pali": Di Korea, segalanya harus dilakukan dengan sangat cepat, mulai dari pelayanan makanan hingga instruksi tugas kuliah.
Hierarki Senioritas: Mahasiswa kaget dengan rasa hormat yang sangat ekstrem terhadap senior dan profesor, termasuk etika minum dan makan yang sangat ketat.
Sensor Internet di China: Mahasiswa di China harus beradaptasi dengan hilangnya akses ke aplikasi populer seperti WhatsApp, Instagram, dan Google, digantikan oleh ekosistem lokal (WeChat, Baidu).
Persaingan Belajar: Budaya belajar di China dan Korea sangat kompetitif, di mana perpustakaan sering kali tetap penuh hingga dini hari oleh mahasiswa lokal.

Culture shock adalah sesuatu yang harus segera ditangani segera, karena bisa berakibat kepada kesehatan seseorang jika dibiarkan berlarut-larut. Jika tidak ditangani, culture shock dapat memengaruhi produktivitas kamu dalam menjalani studi di luar negeri. Kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan mahasiswa lain ketika studi dapat menghambat pencapaian prestasimu.
Bahkan banyak juga akibat culture shock yang dapat menyebabkan gejala fisik seperti insomnia yang diakibatkan perubahan zona waktu. Ada juga yang mengalami pilek dan sakit perut karena makanan dan bakteri asing juga cuaca yang tidak sesuai dengan tubuh mereka. Selain yang barusan, dibawah ini dampak culture shock lainnya.
Culture shock dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian besar mahasiswa internasional. Namun seperti yang sudah kita bahas tadi, bahwa akibatnya lumayan fatal jika tidak diatas. Maka dari itu berikut ini beberapa langkah untuk bisa mengatasi culture shock.
Langkah pertama yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi culture shock adalah dengan menambah wawasan kamu mengenai negara tujuan kuliah. Kamu bisa membaca buku panduan tentang negara tujuan seperti E-Guidebook, kemudian bertanya kepada orang yang pernah tinggal di sana ataupun browsing di internet. Kemudian yang paling penting jangan membayangkan kehidupan di sana seperti yang selalu kita tonton di film atau televisi. Bisa-bisa kamu malah terjebak dalam halusinasi dan kesalahpahaman.
Langkah selanjutnya dalam menangani culture shock adalah menerima kalau perbedaan tidak bisa kamu hindari. Perlu kamu ketahui bahwa tiap negara berbeda-beda budayanya, bahkan walaupun negara tersebut satu benua. Mulai dari kebiasaan, topik pembicaraaan sehari-hari hingga bahasa tubuh.
Satu lagi yang perlu kamu ketahui adalah selera humor di negara tujuan, jangan sampai menyinggung perasaan teman di negara asing. Contoh paling dekatnya ialah seperti Australia dan New Zealand. Walaupun kedua negara tersebut berdekatan, tetapi mereka memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda.
Budaya New Zealand lebih tradisional dan pedesaan daripada Australia yang modern. Makanan New Zealand lebih dipengaruhi oleh budaya Eropa dan Maori, sedangkan makanan Australia lebih dipengaruhi oleh budaya Inggris dan Asia.
Cara paling efektif menangani culture shock adalah dengan mengeksplorasi lingkungan baru. Setibanya di negara tujuan, segera kenali kehidupan setempat dan ketahui tempat-tempat penting seperti kantor pos, toko, dokter, dan kantor pelayanan mahasiswa internasional.
Semua itu tentu saja tidak akan berjalan mulus jika kamu merasa takut dan was-was terhadap lingkungan baru. Jadi, beranilah bertanya tentang keadaan dan adat di tempat baru. Selain itu, baca juga koran lokal sehingga kamu tahu topik pembicaraan yang sedang hangat dan bisa kamu diskusikan dengan teman-teman baru.
Salah satu cara efektif untuk mengatasi culture shock ialah menjadi anggota Komunitas Mahasiswa Internasional saat berada di lingkungan yang baru. Mahasiswa internasional yang sepenanggungan pasti sering menghadapi tantangan yang serupa. Dalam komunitas ini, kamu dapat berbagi pengalaman, cerita, dan perasaan dengan mereka yang memahami situasi yang mirip.
Hal bisa membantu gegar budaya yang dialami dan juga kamu merasa lebih diterima dan mengurangi perasaan kesepian. Selain itu kamu juga memperluas jaringan kontak yang bisa meningkatkan keterampilan interpersonalmu dan memperdalam pemahaman tentang budaya global.
Dalam mengatasi culture shock, kamu tidak boleh ragu untuk bertanya kepada penduduk lokal tentang hal-hal yang belum kamu pahami. Dengan belajar tentang budaya setempat, kamu dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang norma-norma sosial, kebiasaan, dan tradisi. Supaya kamu lebih siap dalam berinteraksi dengan penduduk lokal. Selain itu belajar dan bertanya memungkinkan kamu mengurangi ketidakpastian dalam situasi baru. Kamu bisa memprediksikan apa yang diharapkan dan bagaimana berperilaku dihadapan warga lokal, sehingga mengurangi perasaan canggung dan kebingungan.
Perubahan lingkungan, perbedaan budaya, dan tekanan akademik dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mahasiswa Internasional. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan mental dan tubuh dalam menghadapi tantangan adaptasi. Kesehatan mental yang baik membantu kamu lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan tantangan.
Kamu akan memiliki ketahanan mental yang kuat untuk mengatasi situasi yang mungkin membuatmu merasa tidak nyaman. Selain itu Olahraga dapat membantu meredakan stres dan meningkatkan suasana hati sekaligus menjaga kesehatanmu. Kebiasaan yang baik terkait kesehatan akan memengaruhi kualitas hidup kamu secara keseluruhan demi menghadapi culture shock.
Tidak ada hal yang instan di dunia ini, bahkan kamu memerlukan usaha ketika ingin memasak makanan instan seperti mie. Maka dari itu dalam menghadapi culture shock, kamu harus lakukan dengan sabar dan tidak terburu-buru. Ketika bersikap sabar, kamu bisa mengurangi stres dan tekanan yang mungkin timbul karena perasaan canggung dan kebingungan. Mengakui bahwa proses adaptasi memerlukan waktu akan memberikanmu ruang untuk belajar dan tumbuh. Hal ini juga menjadi langkah penting dalam meraih pengalaman positif di lingkungan yang baru.
Dengan bersabar, kamu dapat membangun fondasi yang kuat dalam menghadapi tantangan yang ada pada lingkungan baru. Mungkin terdengar merepotkan dan penuh tuntutan. Namun, begitulah cara mengatasi culture shock yang tepat. Lama kelamaan kamu akan terbiasa dengan kondisi lingkungan baru bisa menghadapi gegar budaya yang kamu alami.
Untuk informasi mengenai studi di luar negeri dan juga berbagai jurusan, kamu bisa temukan informasi aktualnya di sini. SUN Education bekerja sama dengan berbagai institusi top dunia di luar negeri seperti Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, Inggris, Eropa, Jerman, dan juga Asia. Jika membutuhkan informasi terkini, follow media sosial SUN Education di Instagram, TikTok dan YouTube. Kamu juga bisa melakukan konsultasi GRATIS melalui Hotline di 0821 33 34 35 36 atau datang langsung ke kantor SUN Education yang terdekat di kotamu. Download SUN Education Mobile App atau baca SUN E-Guidebook untuk akses informasi lebih mudah dan GRATIS!
Related Posts
Connect with SUN Education